Komputer/Gadget Anda harus mendukung Adobe FlashPlayer Untuk bisa Menjalankan Feature ini


 


 

Did you miss
Pdt. Ir. Y. Wiryohadi Sermon?
klik disini

 


 
Download
OUTLINE-KHOTBAH
Klik disini
 

 

GBI WTC Serpong
On Youtube 
klik disini


 

 

Kingdom Family - 09

Pengampunan: Kunci Keluarga Berjalan Dalam Destiny


Anda tidak bisa berjalan dalam destiny (rencana Allah) sendirian.

Anda harus berjalan dalam destiny bersama-sama dengan keluarga Anda. Itulah mengapa penting bagi Anda memahami arti pengampunan atau mengampuni, karena itu adalah salah satu kunci Anda dan keluarga Anda bisa berjalan dalam destiny Allah.


Amsal 27:9 berkata  “Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa.”
 

Perkataan atau sikap yang menyakitkan mudah sekali melukai hati pasangan atau orang terdekat kita. Luka itu akan menimbulkan penderitaan yang akan merobek jiwa. Dan orang yang terluka umumnya suka mengekpresikan perasaan lukanya terhadap pasangannya. Ekspresi luka itu bisa dituangkan dalam bentuk ucapan yang tajam atau perkataan yang pedas. Terluka untuk kemudian melukai!
 

Beberapa akibat yang ditimbulkan dari hati yang terluka atau jiwa yang robek:
 

  • Sulit mengekpresikan kasih Kristus. Matius 12:34 mengatakan, apa yang keluar dari mulut atau yang terpancar dari mimik kita, sesungguhya itu meluap dari hati. Itulah mengapa orang yang hati atau jiwanya terluka mengalami kesulitan dalam mengekspresikan kasih Tuhan. Kalaupun harus mengekspresikan, yang terpancar adalah ekspresi dari luka hati atau kepahitan yang ada di dalam jiwanya.
  • Hatinya akan mengeras. Jika memakai istilah kedokteran, hatinya mengalami serosis alias mengeras. Sebagaimana serosis dalam dunia medis dapat mengakibatkan kematian, demikianlah orang yang membiarkan hatinya terluka tanpa pemulihan. Hatinya akan terus mengeras hingga mengakibatkan kematian secara rohani.
  • Menimbulkan perbuatan jahat yang tak pernah terpikir sebelumnya. Contohnya, hanya lantaran cekcok kecil seorang suami tega membunuh istrinya. Kejadian seperti ini banyak kita lihat di televisi. Banyak orang yang melakukan perbuatan jahat tanpa disadari. Luka dibalas luka. Mengapa bisa terjadi demikian? Hati yang dibiarkan tumbuh menjadi 'serosis', tanpa kita sadari akan menyebabkan kematian rohani dan hilangnya kesadaran yang mengakibatkan perbuatan jahat muncul dari dalam diri kita.
     

Efesus 4:31 me-warning, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Ingat, kita baru bisa menikmati kehidupan keluarga yang bahagia dan berjalan dalam destiny Allah bila kita membuang semua itu. Jika tidak, kepahitan dan luka kita akan terus bertambah. Naik dan terus naik, hingga suatu hari akan membentuk gunung es yang bisa mengakibatkan kapal atau perahu rumah tangga kita hancur berantakan! 

Lalu apa yang harus kita lakukan? Di dalam Efesus 4:32 dikatakan,”Tetapi hendaklah kamu ramah  seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni….” Tidak ada pilihan, kita harus hidup dalam kasih dan saling mengampuni. Setinggi apapun gunung es kepahitan atau luka hati kita, bisa mencair atau lumer ketika ada kasih dan saling mengampuni.  Perahu rumah tangga kita pun dapat berjalan menuju destiny yang Tuhan mau.
 

Apa arti mengampuni?
Mengampuni berarti melepaskan pasangan kita atau orang yang menyakiti kita dari semua tuntutan (keinginan yang kita mau atas hidupnya). Tidak ada lagi dengki, balas dendam, atau membicarakan (mengumbar) keburukan pasangan kita di depan orang lain. 

Suka atau tidak suka, kita harus bersedia memberi pengampunan. Orang yang tidak mau mengampuni dikategorikan sebagai orang yang congkak. Dan Yakobus 4:6 mencatat dengan jelas, Allah membenci orang yang congkak! (tetapi mengasihani orang yang rendah hati). Dan yang paling berbahaya, orang yang tidak mau mengampuni tidak akan menerima pengampunan dari Tuhan (Matius 6: 13-15). --- Untuk lebih jelas baca Matius 18 Perumpamaan Tentang Pengampunan.  

Berapa kali kita harus mengampuni?

Alkitab mengajarkan 70x7! Ini berbicara tentang pengampunan yang terus menerus. Layaknya orang yang bernafas, kita harus senantiasa memberi dan menerima pengampunan. Ingat, Yesus mati di kayu salib saat kita masih berdosa. Ia ingin kita melakukan hal serupa, yaitu hendaknya kita mengasihi pasangan juga anak-anak kita, sekalipun mereka belum sempurna.

Saudara, memasuki bulan kemerdekaan ini, biarlah setiap umat Tuhan hidup merdeka. Tidak ada lagi yang terikat oleh “algojo” berupa kebencian, kepahitan, amarah atau luka hati. 

Ketika suami dan istri hidup terikat oleh “algojo” karena tidak mengampuni, ekspresi yang   keluar adalah ekspresi pahit dan luka. Yang terjadi kemudian, anak-anak tidak betah tinggal di tengah keluarga. Mereka lebih suka berada di luar rumah. Banyak anak menjadi pemberontak, terlibat free sex, terkena narkoba, akibat melihat perilaku orangtuanya yang tidak rela melepaskan pengampunan. 

Inginkah Anda terbebas dari penderitaan dan merasakan kelegaan? Lepaskahlah pengampunan! Sehingga Anda pun bisa menikmati keluarga bahagia yang melangkah menuju destiny Allah.
 

Dua hal (prinsip) penting mengenai pengampunan:
 

  1. Pengampunan bukan menahan amarah. Menahan kemarahan itu ibarat menanam bom dalam hubungan (relationship) Anda dengan pasangan, anak atau orang tua, yang suatu waktu akan meledak. Dengan menahan kemarahan, sesunguhnya Anda hanya memperpanjang sumbunya saja, tetapi suatu waktu”bom” itu akan meledak juga. Dengan kata lain, luka hati atau kepahitan masih mengendap di dalam diri Anda. Dan ketika peristiwa menyakitkan terulang,  endapan luka atau kepahitan itu muncul kembali ke permukaan. Karenanya, dibutuhkan kebesaran dan keluasan hati untuk mengampuni. Ketika kita memperluas hati kita layaknya samudra, persoalan yang menyakitkan sekalipun tidak akan membuat hati kita pahit. Setiap kali kita memberi pengampunan, setiap kali itu juga Tuhan akan memperluas hati kita, sehingga kita bisa mengalami kebebasan dan kemerdekaan.
  2. Pengampunan bukan melupakan yang telah terjadi. Melupakan yang terjadi bukan berarti Anda telah mengampuni. Hanya melupakan, ibarat orang yang memotong dedaunan pada sebuah pohon. Sekalipun daunnya habis, namun ia dapat tumbuh lagi di satu waktu. Mengapa? Karena pohon itu tidak dicabut sampai ke akarnya. Orang yang benar-benar mengampuni akan mencabut sampai ke akar-akarnya, sehingga kepahitan atau luka itu tidak akan tumbuh lagi. Sekali lagi, ingat baik-baik, pengampunan bukanlah pilihan melainkan sebuah keharusan! Tanpa Anda hidup di dalam pengampunan, Anda tidak akan pernah menikmati kebahagiaan sejati yang Tuhan janjikan.


Firman-Nya bersabda, “Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18).

Datanglah kepada Kristus! Kasih-Nya dan darah-Nya akan menyucikan kita, sehingga segala kepahitan yang kita alami hilang seketika! Sekalipun mungkin kita dilukai berulang-ulang kali, namun darah Yesus cukup untuk membersihkan luka-luka itu. Kasih-Nya yang tidak pernah berubah sanggup menyempurnakan dan membersihkan hingga kita menjadi putih seperti salju. Di dalam kasih-Nya kita diperdamaikan dan dipulihkan!

 

Disarikan : Ida Rora Huts

Service Times & Speakers